Friday, January 09, 2009
Resolution of 2009 Part 1
Duhai Yang Menghembuskan setiap angin , wahai Yang Menurunkan setiap tetesan hujan , apapun Yang ada di langit dan di bumi bertasbih kepadaMu , wahai Yang Maha Menatap , ijinkanlah pertemuan demi pertemuan kami membuat semakin jelas agar kami dapat mengenalMu , merasakan kehadiranMu, merasakan tatapanMu, Merasakan kokohnya perlindunganMu , Tiada Tuhan selain Engkau wahai Yang Maha Mendengar lindungi pertemuan ini dari ilmu yang dapat menjauhkan kami dariMu.
Tenangkanlah dirimu dari memikirkan urusan duniawi, karena apa yang telah direncanakan Allah Ta’ala bagimu, tidak perlu kamu sibuk memikirkannya “(Dari Mutu Manikam Kitab Al Hikam)
Friday, January 02, 2009
2009 is a year...

Thursday, September 11, 2008
Kaya Karena Sederhana
Oleh: Gede Prama
Menjadi orang kaya, itulah cita-cita banyak sekali orang. Hal yang sama juga pernah melanda saya. Dulu, ketika masih duduk di bangku SMU, kemudian menyaksikan ada rumah indah dan besar, dan di depannya duduk sepasang orang tua lagi menikmati keindahan rumahnya, sering saya bertanya ke diri sendiri: akankah saya bisa sampai di sana? Sekian tahun setelah semua ini berlalu, setelah berkenalan dengan beberapa orang pengusaha yang kekayaanperusahaannya bernilai triliunan rupiah, duduk di kursi tertinggi perusahaan, atau menjadi penasehat tidak sedikit orang kaya, wajah-wajah hidup yang kaya sudah tidak semenarik dan seseksi bayangan dulu.
Penyelaman saya secara lebih mendalam bahkan menghasilkan sejumlah ketakutan untuk menjadi kaya. Ada orang kaya yang memiliki putera-puteri yang bermata kosong melompong sebagai tanda hidup yang kering. Ada pengusaha yang menatap semua orang baru dengan tatapan curiga karena sering ditipu orang, untuk kemudian sedikit-sedikit marah dan memaki. Ada sahabat yang berganti mobil termewah dalam ukuran bulanan, namun harus meminum pil tidur kalau ingin tidur nyenyak. Ada yang memiliki anak tanpa Ibu karena bercerai, dan masih banyak lagi wajah-wajah kekayaan yang membuat saya jadi takut pada kekayaan materi.
Dalam tataran pencaharian seperti ini, tiba-tiba saja saya membaca karya Shakti Gawain dalam jurnal Personal Excellence edisi September 2001 yang menulis : ‘If we have too many things we don’t truly need or want, ourlive become overly complicated’ . Siapa saja yang memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul dibutuhkan, kehidupannya akan berwajah sangat rumit dan kompleks.
Rupanya saya tidak sendiri dalam hal ketakutan bertemu hidup yang amat rumit karena memiliki terlalu banyak hal yang tidak betul-betul diperlukan. Shakti Gawain juga serupa. Lebih dari sekadar takut, di tingkatan materi yangamat berlebihan, ketakutan, kecemasan, dan bahkan keterikatan berlebihan mulai muncul.
Masih segar dalam ingatan, bagaimana tidur saya amat terganggu di hari pertama ketika baru bisa membeli mobil. Sebentar-sebentar bangun sambil melihat garasi. Demikian juga ketika baru duduk di kursi orang nomer satu di perusahaan. Keterikatan agar duduk di sana selamanya membuat saya hampir jadi paranoid. Setiap orang datang dipandang oleh mata secara mencurigakan. Benang merahnya, kekayaan materi memang menghadirkan kegembiraan(kendati hanya sesaat), namun sulit diingkari kalau ia juga menghadirkan keterikatan, ketakutan dan kekhawatiran. Kemerdekaan, kebebasan, keheningan semuanya diperkosa habis oleh kekayaan materi.
Disamping merampok kebebasan dan keheningan, kekayaan materi juga menghasilkan harapan-harapan baru yang bergerak maju. Lebih tinggi, lebih tinggi dan lebih tinggi lagi. Demikianlah kekayaan dengan amat rajin mendorong manusia untuk memproduksi harapan yang lebih tinggi. Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan yang lebih tinggi, sejauh seseorang bisa menyeimbangkannya dengan rasa syukur. Apa lagi kalau harapan bisa mendorong orang bekerja amat keras, plus keikhlasan untuk bersyukur pada sang hidup. Celakanya, dalam banyak hal terjadi, harapan ini terbang dan berlari liar. Dan kemudian membuat kehidupan berlari seperti kucing yang mengejar ekornya sendiri.
Berefleksi dan bercermin dari sinilah, saya sudah teramat lama meninggalkan kehidupan yang demikian ngotot mengejar kekayaan materi. Demikian tidak ngototnya, sampai-sampai ada rekan yang menyebut saya bodoh, tidak mengerti bisnis, malah ada yang menyebut teramat lugu. Untungnya, badan kehidupan saya sudah demikian licin oleh sebutan-sebutan. Sehingga setiap sebutan, lewat saja tanpa memberikan bekas yang berarti.
Ada sahabat yang bertanya, bagaimana saya bisa sampai di sana ? Entah benar entah tidak, dalam banyak keadaan terbukti kalau saya bisa berada di waktu yang tepat, tempat yang tepat, dengan kemampuan yang tepat.Ketika ada perusahaan yang membutuhkan seseorang sebagai pemimpin yang cinta kedamaian, saya ada di sana. Tatkala banyak perusahaan kehilangan orientasi untuk kemudian mencari bahasa-bahasa hati, pada saat yang sama saya suka sekali berbicara dan menulis dengan bahasa-bahasa hati. Dikala sejumlah kalangan di pemerintahan mencari-cari orang muda yang siap untuk diajak bekerja dengan kejujuran, mereka mengenal dan mengingat nama saya. Sebagai akibatnya, terbanglah kehidupan saya dengan tenang dan ringan. Herannya, bisa sampai di situ dengan energi kengototan yang di bawah rata-rata kebanyakan orang. Mungkin tepat apa yang pernah ditulis Rabin DranathTagore dalam The Heart of God : ‘let this be my last word, that I trust in Your Love’. Keyakinan dan keikhlasan di depan Tuhan, mungkin itu yang menjadi kendaraan kehidupan yang paling banyak membantu hidup saya.
Karena keyakinan seperti inilah, maka dalam setiap doa saya senantiasa memohon agar seluruh permohonan saya dalam doa diganti dengan keikhlasan, keikhlasan dan hanya keikhlasan. Tidak hanya dalam doa, dalam keseharianhidup juga demikian. Ada yang mau menggeser dan memberhentikan, saya tidak melawan. Ada yang mengancam dengan kata-kata kasar, saya imbangi secukupnya saja. Ada sahabat yang menyebut kehidupan demikian sebagai kehidupan yang terlalu sederhana dan jauh dari kerumitan. Namun saya meyakini, dengan cara demikian kita bisa kaya dengan jalan sederhana
Friday, January 11, 2008
be a fighter.....
"I have learned that you cannot make someone love you all you can do is be someone who can be loved. the rest is up to them".
somtimes shits happens..broken wings...what I did just adjust, adapt, move on, and hope miracle will happen..but when?..only God knows...
never been in darkside before..when u have no friends..when u are alone even in crowded city..nobody knows me..just miss my ordinary life..I just want normal life..normal people...happy life..just wanna ngelanjutin hidup yang normal...
I know we cannot control the wind..but we can adjust our sails..
really I need a big hug from someone that I knew...really..dont have really a companion in big city...desperate to have real friends..just as simple as that...
..be brave...be persistence...be a fighter...
Wednesday, April 11, 2007
BARAT, ISLAM DAN MAIYAH (OTOKRITIK)
Dapat dipastikan kalau kita pergi ke negara maju/barat (Eropa, Amerika, Australia dsb), maka decak kagum langsung terekpresikan melihat keteraturan hidup yang ada, keteraturan lalu lintasnya, ketertiban antrian orang-orangnya dan seterusnya. Sebuah kekaguman yang wajar, ketika kita hidup pada masyarakat dimana penyakit korupsi meraja-lela, kehidupan yang serba semrawut dimana kebersihan kurang terjaga dengan baik, dan sebagainya, lalu kita melihat atau merasakan hidup pada sebuah negara maju yang kondisinya bertolak belakang dengan kondisi tersebut.
Hanya saja sebagian besar dari kita, kalau tidak mau dikatakan hampir semua (dari para intelektual Islam sampai para ustad dan kyai), yang pernah tinggal / berkunjung ke negara tersebut menyebut inilah kehidupan yang Islami. Sebuah kesimpulan yang sungguh sangat tergesa-gesa, memandang tatanan kehidupan sebuah masyarakat hanya dari bagian kecil kehidupan mereka.
Sifat-sifat jujur, kebersihan dan lain-lain adalah nilai-nilai universal dimana agama lainpun mengajarkan sifat-sifat tersebut. Maka ketika kita melihat individu non islam melakukan sifat-sifat tersebut kemudian kita mengatakan bahwa itu islami, jika individu bukan muslim mendengar klaim tersebut, dapat dipastikan individu tersebut tidak menerima, karena nilai tersebut tidak hanya dimiliki oleh islam, dia berhak mengklaim nilai tersebut berasal dari agamanya. Begitu juga kita tidak bisa mengatakan bahwa Agama lain lebih jujur atau lebih bersih, hanya dikarenakan individu yang beragama islam tidak melaksanakan sifat-sifat tersebut. Seharusnyalah bila kita memandang sebuah sistem secara menyeluruh, tidak hanya sebagian atau per kasus saja, ini baru dikatakan obyektif.
Suatu hari saya ngobrol dengan seorang calon doktor yang juga intelektual muslim, tinggal di Australia. Teman tersebut mengutarakan kekagumannya akan negeri ini dengan perlindungan terhadap wanita, dimana kalau pria memandang wanita berlama-lama si wanita bisa menuntut dengan alasan pelecehan seksual. Kemudian menganggap sistem ini lebih baik, karena di negara yang mayoritas penduduknya muslim tidak menerapkan hukum ini. Kalau kita mau sedikit berpikir jernih, maka kita bisa melihat sistem tersebut tidak fair. Wanita dibiarkan berpakaian sedemikian rupa hingga hampir telanjang (atau bahkan telanjang di tempat-tempat tertentu) sehingga dapat menimbulkan rangsangan bagi pria, tetapi di sisi lain pria dibatasi pandangan matanya untuk tidak melihat hal-hal yang merangsang mata pria melihatnya, apakah ini dapat dikatakan adil ?. Marilah coba kita bandingkan dengan islam. Islam menyuruh kita untuk menundukkan pandangan kita, islam mengajarkan pandangan pertama adalah milikmu, selebihnya adalah milik setan. Di lain fihak, Islam menyuruh wanita untuk menutup auratnya, untuk berpakaian yang tidak merangsang pandangan mata laki-laki. Manakah yang dapat dikatakan lebih adil ?. Akankah obyektif kalau kita katakan sistem yang ada di negara ini lebih baik dari Islam, hanya karena individu di negara yang mayoritas penduduknya Islam tidak menjalankan hukum-hukum yang ditetapkan oleh Islam ?.
Contoh lain yang lebih konkrit, di Australia setiap hari kita bisa mendengar dan melihat bagaimana sibuknya pemerintah ini untuk menangani masalah yang dihadapi masyarakatnya yang berkaitan dengan alkohol dan perjudian. Tetapi disisi lain perekomian di negara ini salah satunya ditopang oleh hasil penjualan minuman keras dan perjudian, maka dengan gamblang kita bisa melihat satu tindakan yang kontradiktif, dimana disatu sisi ingin memperbaiki masyarakatnya untuk tidak kecanduan alkohol dan judi, di sisi lainnya melegalkan kegiatan tersebut karena mengandung manfaat bagi pemerintah. Bedakan dengan Islam yang jelas-jelas mengharamkan segala bentuk kegiatan tersebut, baik pemakai maupun penjualnya, meskipun ada sisi manfaat lain dalam kegiatan tersebut. Jadi solusi Islam lebih jelas dan tidak berbelit. Kemudian kita juga dapat melihat dengan gamblang bahwa kegiatan pelacuran ditawarkan dari rumah ke rumah tanpa malu-malu lagi melalui iklan di koran dan televisi. Yang lebih mengejutkan lagi ketika aktifis organisasi Islam menyebarkan pamflet/brosur yang menyerukan agar pemerintah melarang segala bentuk aktifitas homo seksual (gay & lesbian), kelompok gay & lesbian ganti melaporkan ke pemerintah, keberadaan organisasi Islam tersebut sebaiknya ditutup saja karena telah mengganggu keberadaan mereka yang telah dijamin oleh undang-undang, dan organisasi Islam tersebut mendapat peringatan keras atas nama DEMOKRASI ( sudah saatnya kita berfikir ulang apakah demokrasi yang didasarkan pada suara mayoritas manusia terbanyak, cocok dan baik untuk kemashlahatan kehidupan kaum muslim dunia dan akhirat, yang seharusnya hanya menyandarkan suara tunggal - bukan demokrasi - dari Allah Swt ) untuk tidak "ngutak-atik" keberadaan gay & lesbian.
Apakah semua ini dapat kita katakan lebih Islami hanya dengan melihat beberapa fakta bahwa korupsi di negeri ini lebih sedikit dibandingkan negeri yang mayoritas penduduknya muslim yang tidak menerapkan hukum Islam ? ataupun fakta-fakta kecil lainnya yang telah disebutkan di atas ?. Dari contoh-contoh di atas, perilaku masyarakat barat baik yang melahirkan sebuah kebaikan ataupun keburukan (tentu saja sangat relatif kalau parameternya adalah kacamata manusia), dihasilkan oleh suatu PRODUK HUKUM/SISTEM, bukan oleh produk akhlak masyarakatnya.
Kalau begitu apa dong yang menyebabkan terpuruknya negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, salah satunya Indonesia. Bukankah akhlak mereka tidak sesuai dengan ajaran Islam, jadi biang bencana umat ini adalah karena akhlaknya ?.
Seorang aktifis dakwah Islam (tidak mau disebut kyai apalagi ulama) yang juga seorang insinyur berasal dari Jordan, yang telah berkunjung ke berbagai negara yang mayoritas muslim, dan lama tingal di negeri barat (jerman dan australia), cukup jeli menggambarkan akhlak orang barat dengan orang Islam. Dia mengatakan sangatlah tidak adil menghakimi bahwa akhlak orang Islam jauh lebih buruk dari orang barat tanpa melihat lingkungan yang membentuk mereka. Di negara barat saat ini mungkin jarang ditemukan pencurian atau penipuan (manusia barat lebih jujur), karena sistem di mana mereka hidup menjamin kebutuhan minimal pokoknya telah terpenuhi, orang yang tidak bekerja mendapatkan jaminan sosial karena dia tidak bekerja (serta jaminan-jaminan lain bagi yang tidak mampu), sehingga orang tidak butuh mencuri atau menipu untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Bandingkan dengan Indonesia misalnya, berapa juta manusia yang tidak bisa sekedar memenuhi kehidupan pokoknya saja, maka kondisi demikian akan sangat memungkinkan orang untuk bertindak kejahatan. Bukti yang bisa terlihat gamblang adalah orang amerika yang telah terjamin kebutuhan minimal hidupnya, tetapi ketika satu kota lampunya mati beberapa jam saja, terjadi pencurian dan perampokan besar-besaran di banyak pertokoan yang ada (bayangkan kalau orang amerika tidak dijamin kebutuhan pokok hidupnya).
Artinya apa ? Orang Amerika tidak mau mencuri atau merampok bukan karena akhlaknya yang baik, tetapi karena takut kepada produk hukum yang ada. Paling tidak orang Islam masih berbangga masih ada di negara yang mayoritas penduduknya Islam pada waktu sholat jum'at tiba, semua aktifitas perdagangan ditinggalkan, dan semua toko-toko ditinggalkan tanpa penjagaan tanpa rasa khawatir sama sekali, dan ketika pemilik toko kembali mendapatkan barang dagangannya masih utuh. Jangan lupa pula orang-orang barat punya andil untuk memiskinkan penduduk negara-negara yang mayoritas penduduknya Islam, mau bukti ? nggak usah jauh-jauh IMF dengan Indonesianya yang saat ini sedang diributkan, dan masih banyak sederet fakta lainnya.
Kalau begitu apa yang salah dengan umat Islam ini dan manusia di dunia ini?. Tanpa menafikan fakta bahwa memang akhlak umat Islam ini merosot drastis, yang terpenting dari semua itu adalah tidak diterapkannya hukum-hukum Islam terhadap keseluruhan umat manusia ( Islam adalah rahmat bagi seluruh manusia). Umat Islam memang beragama Islam tapi ideologi, pola pikirnya masih kapitalis, masih menghalalkan gay & lesbian (lho koq ? -- lha ini kan produk DEMOKRASI, sedang umat Islam kan lagi gandrung sama namanya DEMOKRASI, kan nggak jauh beda dengan menghalalkan perjudian asal di pool di satu tempat misalnya pulau seribu, atas dasar manfaat di bawah naungan semangat demokrasi).Maiyah adalah sebuah potensi besar, sebuah potensi kebersamaan, bersama-sama bangkit membangun Indonesia awalnya, lalu peradaban dunia akhirnya ( Islam nggak hanya untuk Indonesia saja kan ?). Hanya kalau caranya cuma menunggu semua orang Indonesia melingkar, apa iya bisa terwujud efektif. Kalau kita teladani Rasullulah dan para sahabat, selain saling melingkar unsur yang terpenting adalah kepemimpinan.
Berbicara tentang kepemimpinan berarti bicara tentang politik/siyasiah. Tentu saja politik dalam koridor demokrasi adalah identik dengan perebutan kekuasaan, yang berarti pula kekayaan, maka ketika orientasinya adalah perebutan kekuasaan yang terjadi adalah munculnya trik-trik kotor (apakah ini cuma terjadi di Indonesia, ya tentu saja tidak bahkan "bapak negara" demokrasi-pun punya prestasi yang cukup banyak melahirkan trik-trik kotor). Mungkin sudah saatnya maiyah mengajarkan politik dalam kacamata Islam.
Politik dalam Islam adalah berarti mengurusi semua kepentingan, kesejahteraan umat. Maka tak heran ketika Islam berjaya seorang mukmin yang ditunjuk sebagai khalifah langsung pingsan, dia memilih menjadi rakyat biasa saja, karena terbayang betapa berat tanggung jawab yang harus dipikul, harus mengurusi kepentingan, kesejahteraan berjuta umat, yang nanti harus dipertanggung jawabkan di depan Allah. Lalu untuk itu dia harus rela hidup pas-pasan, tapi efeknya adalah umat hidup sejahtera, bahkan sangat kesulitan untuk mendistribusikan zakat, sehingga keluar aturan siapa saja pemuda yang ingin menikah, semua biaya pernikahan ditanggung oleh negara. Dan yang terpenting dari semua itu adalah, terciptanya tatanan masyarakat yang bukan hanya berorientasi pada pemenuhan materi saja, tetapi sebagai hamba-hamba yang patuh pada seluruh hukum-hukumNya, dunia hanyalah sebagai efek samping atas nikmat yang diberikan karena menjalankan hukum-hukumNya.Benar apa yang diadopsi maiyah, sebaiknya biar Allah yang memilih pemimpin umat. Tugas maiyah adalah menciptakan kondisi-kondisi agar Allah berkenan memilihkan pemimpin untuk kita. Maka kalau kondisi-kondisi itu masih di dasarkan pada suara terbanyak sebagai tolok ukur kebenaran yang berarti demokrasi, bukan kondisi yang didasarkan pada suara tunggal kacamata Allah sebagai tolok ukurnya, akankah Allah berkenan memilihkan pemimpin yang "benar" untuk kita semua ?.Wallahualam bi shawab !
Assalamu'alaikum wr wb
Monday, September 18, 2006
Datang Melalui Jendela Waktu (Oleh : Gede Prama)
In the Name of Allah The most Gracious the Most merciful
Dalam ilmu pengetahuan, sejak dulu sampai dengan sekarang, ruang dan waktu adalah dua misteri besar. Kendati sejumlah film fiksi mencoba menelaah dan menelusurinya, tetap keduanya masih tersisa sebagai misteri besar. Demikian juga dengan penelitian, meskipun pernah ditemukan bahwa di tempat di mana daya tarik gravitasi bumi bisa dikurangi sang waktu bisa sedikit direm perjalanannya. Namun tetap ia menjadi misteri.
Dunia film dan dunia ilmu pengetahuan boleh menyebutnya sebagai misteri, namun bagi saya waktu adalah sebuah jendela besar dari mana banyak sekali hal datang. Kejahatan, kebaikan, kebesaran, kekerdilan, kesuksesan, kegagalan, dan bahkan Tuhan juga datang melalui jendela yang sama. Sayang, ada banyak sekali manusia yang membiarkan saja jendela waktu tidak berfungsi.Pengangguran yang membuang-buang waktunya secara percuma, pekerja yang mengeluh bahwa dirinya kelebihan waktu, pemimpin dengan seluruhkesempatannya yang membiarkan saja kesempatan berbuat baik lewat begitu saja, pengusaha lengkap dengan uangnya yang membiarkan saja sang waktu lewat tanpa tanda-tanda kebaikan yang berarti, hanyalah sebagian contoh,bagaimana jendela waktu dibiarkan saja kosong tanpa dilewati tindakan berarti.
Cobalah menoleh ke kanan, ke kiri, ke depan dan ke belakang, kesempatan untuk memanfaatkan jendela waktu tersedia secara melimpah. Sampah yang dibuang sembarangan, bawahan-bawahan kita yang lama tidak kita ajak bicara, satpam dekat rumah yang haus akan sapaan orang, petugas cleaning service di kantor yang amat miskin terimakasih orang lain, anak-anak yang jarang bertemu kita di rumah, isteri/suami yang dilewati saja oleh kesibukan-kesibukan, buku di kantor yang lama tidak terbaca, teman yang lama belum ditelepon, adalah sebagian peluang-peluang tindakan berarti yang bisa lewat melalui jendela waktu. Hanya saja, baik karena factor khilaf, tidak tahu, atau faktor lain, semua peluang ini lewat begitu saja.
Sebagai hasilnya, jadilah jendela waktu menjadi jendela kosong, atau menjadi jendela yang dilewati hanya oleh ‘mahluk-mahluk’ berbau tidaksedap. Kebencian, dendam, kemarahan yang tidak terkelola dan liar, hanyalah sebagian dari mahluk-mahluk yang berbau tidak sedap tadi. Namun, dengan pongahnya mondar-mandir melewati jendela tadi tanpa pengelolaan dan pengawasan kita. Sebagai hasilnya, mirip dengan orang yang sering kali masuk ruangan berbau tidak sedap, maka badan dan jiwa ini juga dibuat berbau tidak sedap.Kalau boleh jujur, inilah yang berada di balik kehidupan banyak orang,yang tanpa dikehendaki, tidak bisa diterangkan sepenuhnya, tidakdiniatkan dan direncanakan, eh tiba-tiba meluncur ke lumpur.
Dan kemudian, penuh keheranan bertanya : kenapa hidup saya jadi berlumpur begini ?Andaikan banyak orang secara sengaja membiarkan jendela waktunyadilewati oleh bau-bau harum kebaikan, mungkin kebingungan sebagaimanapertanyaan terakhir bisa dikurangi secara amat meyakinkan. Dalam jangkapendek, tidak tertutup kemungkinan kalau Anda dikatakan bodoh, lugu dansejenisnya. Namun, dalam jangka panjang bangunan-bangunan sang jiwa sedang dibuat kokoh oleh semen, bata dan pasir-pasir kebaikan.Kalau diselami secara agak dalam, catatan hidup seperti inilah yangberada di balik sejumlah konglomerat spiritual seperti Mahatma Gandhi, Buddha Gautama, Jalaludin Rumi, Santo Franciskus. Bau harum hidupnya berumur melampaui jauh lebih lama dari umur badan kasarnya. Bisa jadi, bau harum tadi akan tercium selamanya.Terus terang, saya iri sekali dengan kinerja hidup konglomerat-konglomerat spiritual di atas. Dan kalau mereka bandingannya, sungguh saya hanya pungguk yang merindukan bulan. Sebagaimana juga kebanyakan orang, sejelek dan serendah apapun kinerja hidup kita, jendela waktu tetap terbuka buat semua orang – sekali lagi buat semua orang.
Ambillah waktu untuk berpikir Itu adalah sumber kekuatan Ambillah waktu untuk bermain Itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi
Ambillah waktu untuk membaca Itu adalah sumber kebijaksanaan
Ambillah waktu untuk berdoa Itu adalah kekuatan terbesar di bumi
Ambillah waktu untuk mencintai dan dicinta iItu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan Ambillah waktu untuk bersahabat Itu adalah jalan menuju kebahagiaan
Ambillah waktu untuk tertawa Itu adalah musik yang menggetarkan jiwa Ambillah waktu untuk memberi Itu adalah hari yang sangat singkat untuk kepentingan diri sendiri
Ambillah waktu untuk bekerja Itu adalah nilai keberhasilan
Ambillah waktu untuk beramal Itu adalah kunci menuju surga
Dalam keheningan dan kejernihan, setelah menyelami pepatah tua di atas,waktu rupanya tidak hanya berfungsi sebagai jendela tempat lewatnyabanyak sekali hal. Ia sekaligus sebuah sumber air yang amat luar biasa, tidak akan pernah habis, dan tersedia sama buat semua orang. Persoalalannya adalah, akankah kita menggunakannya atau membiarkannya hilang ditelan angin ?
The art of Reflection
Without constant practice, the officers will be nervous and undecided when mustering for battle; without constant practice, the general will be wavering and irresolute when the crisis is at hand
what does that means? practices always make u perfect...the bottom line is..the reflection you've got from the practice made your un-subconcious mind work when you are needed the most....
Thursday, August 25, 2005
Profiling Strategy
Profiling Strategy adalah suatu strategi untuk mengambar sesuatu (seseorang, tempat, groups) berdasar ciri-ciri, tampilan, character, personality, dan tempat. Profiling bisa menambah informasi yang anda perlu untuk membuat quick decision. profiling akan sangat penting untuk survival strategy; entah saat anda tersesat, saat anda mencari rumah seseorang, saat kamu cari pacar(no kiddin), saat kamu bertransaksi etc. Well, profiling bukannya ilmu yang dikembangkan oleh FBI, meskipun mereka memperkenalkannya lewat film-film seperti Bourne identity, the recruitment, etc., tetapi profiling adalah suatu teknik yang natural terdapat pada setiap orang. mungkin kesensitivitasan setiap orang akan berbeda-beda, tergantung latihan, reflect, dan ketajaman. Coba ambil contoh saat anda berkenalan dengan seseorang, dengan secara alami, inner-mind anda akan mengambil opini tertentu tentang seseorang itu, orang itu baik atau jahat. Semua opini akan tergantung dari background anda, but one thing should remember, your heart never lie to yourself.
How to profile someone or something:
Profiling:
Outer space: See the face, posture, image, costume.
Inner Space: see the inside, mind, personality, character.
Place: see the room, where the thing is located, the move, see the overal picture of image, every place got a "scene" which you should remember. with the three important things, we can make quick information or raw data to be proceed in the second steps.
Test-Error: see if your profiling is correct, by doing some quick test, trial and error, from this test, you will sharpen your inner-sense on how to react in certain circumtances. if you think a person is good: ask him a simple question, ask to his friends, etc. if you lost in some block of apartment, see the scene, number, or symbol. just find a way out.
here, I will do some profiling for marketing and person:
I will market my product called Mnms to a city where the people like to eat candy, here is my profiling: 10 - 20 year olds; probably love candy for spare time, like to hang out together with friends, students, sporty, and open-minded.
I met new girl in a occasion: 21-25 year olds, 160-165 cm, independent, smart, elegant: trendy but simple, use jeans, wear glasses, serious, savvy. and etc.
well from two examples, you can do your own profiling strategy and make a good information for yourself. and good luck with your profiling.
regards,
indraswd
Manusia tempat kesalahan
Perlu disadari bahwa manusia itu adalah makhluk yang penuh dengan kesalahan. Tiada terkecuali, saya, yang telah banyak melakukan kesalahan selama ini. Saya belajar dari kesalahan-kesalahan yang saya buat maupun kesalahan dari teman-teman saya. mengapa kita merasa paling kuat, paling benar? Mengapa hati ini begitu keras, begitu keras, begitu sombong, dan merasa paling benar sendiri? Mengapa manusia itu merasa bahwa dirinya adalah yang paling benar sendiri, paling kuat, dan paling pintar.
ada satu hal yang aku pelajari dari Rasulullah, walau dia tidak merasa paling pintar, paling kuat, atau paling benar, bahkan dia menyebut dirinya hamba, tetapi semua mata hati tertuju kepadanya, masyaAllah, dan bahkan dia juga adalah kekasih Allah. seandainya ada seseorang yang berhati mulia seperti rasulullah, yang begitu cinta kepada umatnya, walau ajal menunggunya, dia mengucapkan ya umatii...ya umatii...ya umatii... mengapa hati ini kita begitu pongah, padahal ada satu contoh mulia yang perlu kita tiru.
Ya allah, ampunkanlah dosaku, yang telah banyak melakukan kesalahan, karena sesungguhnya aku tak sanggup untuk ke neraka. terimalah taubatku ya Allah, sesungguhnya Engkau pengampun dosa-dosa orang-orang yang menyerahkan diri. dan jadikankanlah kami termasuk orang-orang yang bersyukur.
regards,
Indraswd
walaikumsalam wr wb
